Dokumen ini adalah terjemahan dari CSS & XLS: which should I use? dan mungkin terdapat kesalahan penerjemahan.
Dokumen aslinya dapat di temukan di: http://www.w3.org/Style/CSS-vs-XSL
Penerjemah: Edwin Rene
(halaman ini menggunakan style sheet CSS)
Mengapa W3C merekomendasikan dua bahasa style yang berbeda? Mana yang harus anda gunakan? Pada dasarnya, aturannya dapat di rangkum secara singkat:
Gunakan CSS saat anda bisa, gunakan XSL saat anda harus.
Alasannya adalah bahwa CSS lebih mudah digunakan, lebih mudah dipelajari, sehingga mudah dipertahankan dan juga lebih murah biayanya. Secara umum ada lebih banyak editor WYSIWYG untuk CSS dibandingkan untuk XSL. Tetapi kesederhanaan CSS berarti hal tersebut mempunyai keterbatasan. Ada hal-hal yang anda tidak dapat lakukan dengan CSS, atau hanya dengan menggunakan CSS. Pada saat itulah anda memerlukan XLS atau fungsi trasformasi dari XLS.
Jadi untuk hal-hal apa saja XSL anda gunakan? Pada umumnya segala hal yang perlu memerlukan transformasi. Sebagai contoh bila anda memiliki sebuah daftar dan ingin anda tampilkan secara lexicography, atau jika kata-kata harus diganti dengan kata-kata lainnya, atau bila ada elemen-elemen kosong yang harus diganti dengan teks. CSS bisa menhasilkan text, tetapi hanya sebatas menghasilkan hal-hal yang kecil seperti, nomor-nomor untuk section header.
Diagram ini
menunjukkan peran XSL dan CSS. Dokumen-dokumen XML dapat di ubah dalam
tiga cara berbeda: (1)
bila dokumen tersebut tidak perlu ditransformasikan, gunakan CSS.
Selain itu, gunakan XSL-T, bahasa transformasi dari XSL, dari salah
satu dari dua cara ini: (2)
properti dari style properties dihasilkan bersama dengan text yang
sudah diatur, menggunakan sub-language XSL yang dinamakan XSL-FO (XSL
Formatting Objects); atau (3)
hasilkan dokumen XML atau HTML yang baru dan sediakan sebuah style
sheet CSS untuk dokumen baru tersebut.
Informasi lebih lanjut: